Selasa, 02 Januari 2018

Makalah Perkembangan Emosional Anak Down Syndrome (ABK)



PERKEMBANGAN EMOSIONAL ANAK DOWN SYNDROME


DOSEN PEMBIMBING
Refika Andriani, M.Pd.

DISUSUN OLEH
SISKA FRADINA        1788203017


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LANCANG KUNING
2017/2018






KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr. Wb
Dengan mengucap syukur alhamdulillah. Terimakasih penulis ucapkan kepada Ibuk Refika Andriani,M.Pd. Karena beliau telah memberikan waktu yang cukup lama untuk penulis melaksanakan penelitian dan merangkumnya dalam makalah yang berjudul “Perkembangan Emosional Anak Down Syndrome”.
Walaupun banyak hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Swt. Walaupun demikian, sudah tentu makalah ini masih banyak kekurangan dan belum dikatakan sempurna karena keterbatasan kemampuan penulis.
Oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pihak penulis harapkan agar dalam pembuatan makalah di waktu yang akan datang bisa lebih baik lagi. Harapan penulis semoga makalah ini berguna bagi siapa saja yang membacanya.
Wabilahi taufik walhidayah wasalamualaikum wr.wb.


 
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A.      Latar Belakang 1
B.      Rumusan Masalah 1
C.      Tujuan Makalah 1
BAB II PEMBAHASAN 2
A.      Pengertian Down Syndrome 2
B.      Pemeriksaan Diagnostik Down Syndrome 2
C.      Penyebab Down Syndrome 3
D.     Karakteristik Down Syndrome 5
E.      Cara Pencegahan dan Penanganan Penderita Down Syndrome 6
BAB III HASIL PENELITIAN 8
A.      Biodata Anak Down Syndrome 8
B.      Gambaran Umum Penderita Down Syndrome 8
C.      Gambaran Fisik Penderita Down Syndrome 9
D.     Hasil Wawancara dengan Orangtua (Ibu) 9
E.      Hasil Wawancara dengan Wali Kelas 10
F.       Lampiran Foto 11
BAB IV PENUTUP 12
A.      Kesimpulan 12
B.      Saran 12
DAFTAR PUSTAKA 13






BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan anak sudah dimulai sejak dalam kandungan hingga dewasa. Namun, tidak semua anak terlahir dalam keadaan normal. Ada sebagian dari setiap kelahiran seorang ibu yang mengalami kelainan, salah satunya Down Syndrome (mongoloid).
Down Syndrome merupakan kelainan kromosom autosomal yang paling banyak terjadi pada manusia. Anak dengan Down Syndrome memiliki kelainan pada kromosom nomor 21 yang tidak terdiri dari 2 kromosom sebagaimana mestinya. Melainkan 3 kromosom (trisomi 21) sehingga informasi genetika menjadi terganggu dan anak juga mengalami penyimpangan fisik. Kondisi ini menyebabkan keterlambatan perkembangan anak, dan kadang mengacu pada retardasi mental. Tetapi hampir semua anak yang menderita kelainan ini dapat belajar membaca, menulis, merawat diri dan menjaga kebersihan di lingkungannya. Bahkan anak Down Syndrome banyak yang berhasil dan berprestasi dalam bidang non akademik.
Diharapkan anak-anak yang memiliki kelainan fisik maupun mental dapat mendapatkan penanganan secara khusus dan ikut mendukung perkembangannya dalam bidang akademik maupun non akademik.
B.      Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Down Syndrome?
2.      Bagaimana pemeriksaan diagnostik pada Down Syndrome?
3.      Apa penyebab Down Syndrome?
4.      Bagaimana karakteristik Down Syndrome?
5.      Bagaimana cara pencegahan dan penanganan penderita Down Syndrome?

C.      Tujuan Makalah
Untuk menambah pengetahuan tentang Down Syndrome.

BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Down Syndrome
Menurut Gunarhadi (2005 : 13) Down Syndrome adalah suatu kumpulan gejala akibat dari abnormalitas kromosom, biasanya kromosom 21, yang tidak dapat memisahkan diri selama meiosis sehingga terjadi individu dengan 47 kromosom.
menurut Cuncha dalam Mark L.Batshaw, M.D. Down Syndrome adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental pada anak yang disebabkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom.
Menurut Selikowitz (2001), anak Down Syndrome dan anak normal pada dasarnya memiliki tujuan yang sama dalam tugas perkembangan, yaitu mencapai kemandirian. Namun, perkembangan
anak Down Syndrome lebih lambat dari pada anak normal. Jadi diperlukan suatu terapi untuk meningkatkan kemandirian anak Down Syndrome.
            Dari pendapat diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa Down Syndrome adalah kelainan yang diakibatkan karena individu mengalami kelebihan kromosom sehingga memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental suatu individu. Hal itu menyebabkan suatu individu memiliki IQ dibawah rata-rata sehingga lambat berpikir dan bertindak.

B.      Pemeriksaan Diagnostik Down Syndrome
Pemeriksaan diagnostik dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan Down Syndrome. Untuk mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada beberapa pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain:
1.      Pemeriksaan fisik penderita
2.      Pemeriksaan kromosom penderita
Kariotip manusia biasa hadir sebagai 46 autosom+XX atau 46 autosom+XY, menunjukkan 46 kromosom dengan aturan XX bagi betina dan 46 kromosom dengan aturan XY bagi jantan, tetapi pada penderita Down Syndrome terjadi kelainan pada kromosom ke 21 dengan bentuk trisomi atau translokasi kromosom 14 dan 22.


3.      Ultrasonograpgy (USG)
Pada penderita Down Syndrome didapatkan brachycephalic, sutura dan fontela 
terlambat menutup, tulang ileum dan sayapnya melebar.
4.      Echocardiogram (ECG)
Cara ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya kelainan jantung  bawaan mungkin terdapat ASD atau VSD.
5.      Pemeriksaan darah
Salah satunya adalah  dengan adanya leukemia akut menyebabkan penderita semakin rentan terkena infeksi, sehingga penderita ini memerlukan monitoring serta pemberian terapi pencegah infeksi.
6.      Penentuan aspek keturunan
Dapat ditegakkan melalui pemeriksaan cairan amnion atau korion pada kehamilan minimal 3 bulan, terutama kehamilan diusia diatas 35 tahun keatas.
7.      Pemeriksaan dermatoglifik
Ditandai dengan lapisan kulit biasanya tampak keriput.

C.      Penyebab Down Syndrome
Seorang individu yang menderita Down Syndrome diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah:
1.      Down Syndrome mempunyai kromosom 21 yang berlebih (3 kromosom) didalam tubuhnya yang kemudian disebut trisomi 21. Adanya kelebihan kromosom menyebabkan perubahan dalam proses normal yang mengatur embriogenesis. Materi genetik yang berlebih tersebut terletak pada bagian lengan bawah dari kromosom 21 dan interaksinya dengan fungsi gen lainnya menghasilkan suatu perubahan homeostasis yang memungkinkan terjadinya penyimpangan pertumbuhan fisik (kelainan tulang), SSP (penglihatan, pendengaran) dan kecerdasan yang terbatas.
2.      Genetik
Diperkirakan terdapat predisposisi terhadap “Non disjunctional”. Bukti yang mendukung teori ini adalah berdasarkan atas hasil penelitian epidemiologi yang menyebabkan adanya peningkatan risiko berulang bila dalam keluarga terdapat anak dengan Down Syndrome.
3.      Radiasi
Radiasi dikatakan merupakan salah satu penyebab utama terjadinya “Nondisjunctional” pada Down Syndrome. Uchida 1981 membicarakan bahwa sekitar 30% ibu melahirkan anak dengan Down Syndrome, pernah mengalami radiasi didaerah perut sebelum terjadinya konsepsi. Sedangkan penelitian lain tidak menetapkan adanya hubungan antara radiasi dengan penyimpangan kromosom.
4.      Infeksi
Infeksi juga dikatakan salah satu penyebab terjadinya Down Syndrome.Sampai saat ini belum ada peneliti yang mampu memastikan bahwa virus dapat mengakibatkan terjadinya “Non disjunctional”.
5.      Autoimun
Terutama autoimun tiroid atau penyakit yang berkaitan dengan tiroid. Penelitian Fialkaw 1966, secara konsisten mendapatkan perbedaan autoantibodi tiroid pada ibu yang melahirkan anak dengan Down Syndrome dengan ibu kontrol yang umurnya sama.
6.    Umur ibu
Apabila umur ibu diatas 35 tahun diperkirakan terdapat perubahan hormonal yang dapat menyebabkan “non dijunction” pada kromosom. Perubahan endokrin seperti konsentrasi reseptor hormon dan peningkatan kadar LH dan FSH secara tiba-tiba sebelum dan selama menopause. Selain itu kelainan kehamilan juga berpengaruh.
7.      Umur ayah
Penelitian sutogenik pada orang tua dengan Down Syndrome mendapatkan bahwa 20-30% kasus ekstra kromosom 21 bersumber dari ayahnya. Tetapi korelasinya tidak setinggi dengan umur ibu.

D.     Karakteristik Down Syndrome
Berat pada bayi yang baru lahir dengan penyakit Down Syndrome pada umumnya kurang dari normal, diperkirakan 20% kasus dengan Down Syndrome ini lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Anak-anak yang menderita Down Syndrome memiliki penampilan yang khas, seperti berikut:
1.        Bentuk tulang tengkoraknya asimetris atau ganjil dengan bagian belakang kepalanya mendatar (sutura sagitalis terpisah).
2.      Lesi pada iris mata (bintik Brushfield), matanya sipit ke atas dan kelopak mata berlipat-lipat (lipatanepikantus) serta jarak pupil yang lebar.
3.      Kepalanya lebih kecil daripada normal (mikrosefalus) dan bentuknya abnormal serta leher pendek dan besar.
4.      Pada bayi baru lahir kelainan dapat berupa Congenital Heart Failure (kelainan jantung bawaan), kelainan ini yang biasanya berakibat fatal di mana bayi dapat meninggal dengan cepat.
5.      Hidungnya datar (Hidung kemek/Hipoplastik), lidahnya menonjol, tebal dan kerap terjulur serta mulut yang selalu terbuka.
6.      Tangannya pendek dan lebar dengan jari-jari tangan yang pendek dan seringkali hanya memiliki satu garis tangan pada telapak tangannya.
7.      Jarak ibu jari kaki dengan jari kedua lebar.
8.      Jari kelingking hanya terdiri dari dua buku dan melengkung ke dalam (Plantar Crease).
9.      Telinganya kecil dan terletak lebih rendah.
10.  Gangguan pertumbuhan dan perkembangan (hampir semua penderita Down Syndrome tidak pernah mencapai tinggi rata-rata orang dewasa).
11.  Keterbelakangan mental.
12.  Hiper fleksibilitas.
13.  Bentuk palatum yang tidak normal.
14.  Kelemahan otot.

E.      Cara Pencegahan dan Penanganan Penderita Down Syndrome
Pencegahan:
1.      Konseling genetik maupun amniosentesis pada kehamilan yang dicurigai akan sangat membantu mengurangi angka kejadian Down Syndrome.
2.      Dengan Biologi Molekuler, misalnya dengan “ gene targeting “ atau yang dikenal juga sebagai “ homologous recombination “ sebuah gen dapat dinonaktifkan.
3.      Dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan Down Syndrome atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan Down Syndrome lebih tinggi. Down Syndrome tidak bisa dicegah, karena Down Syndrome merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Jumlah kromosm 21 yang harusnya cuma 2 menjadi 3. Penyebabnya masih tidak diketahui pasti, yang dapat disimpulkan sampai saat ini adalah makin tua usia ibu makin tinggi risiko untuk terjadinya Down Syndrome. Diagnosis dalam kandungan bisa dilakukan, diagnosis pasti dengan analisis kromosom dengan cara pengambilan CVS (mengambil sedikit bagian janin pada plasenta) pada kehamilan 10-12 minggu) atau amniosentesis (pengambilan air ketuban) pada kehamilan 14-16 minggu.
Penanganan:
1.      Penanganan Secara Medis.
2.      Pendidikan.
a.    Intervensi dini
b.    Taman bermain
c.    Pendidikan khusus (SLB-C)
d.    Penyuluhan pada orang tua
3.      Penyuluhan Pada Orang Tua
a.      Berikan nutrisi yang memadai.
b.      Anjurkan orang tua untuk memeriksakan pendengaran dan penglihatan secara rutin.
c.       Memotivasi orang tua.


BAB III
HASIL PENELITIAN
A.     Biodata Anak Down Syndrome
Nama                     : Riska Nurmaulani
Jenis Kelamin         : Perempuan
Agama                   : Islam
Umur                      : 16 tahun
Sekolah                  : SLB Melati Limbungan, Pekanbaru
Kelas                      : VII SMPLB C
Nama Ayah            : Alm. Tedy Iskandar
Nama Ibu               : Nur Syamsu
Urutan Kelahiran   : Anak ke empat dari empat bersaudara
B.      Gambaran Umum Penderita Down Syndrome
Pada tanggal 07-08 Desember 2017 penulis melakukan penelitian di SLB Melati Limbungan, Pekanbaru. Penulis mencari sampel anak berkebutuhan khusus yang menderita keterbelakangan mental. Dan ditemukanlah penderita Down Syndrome yang bernama RISKA NURMAULANI. Dia adalah anak perempuan yang ramah, penuh kasih sayang dan begitu perduli dengan lingkungan sekitarnya. Dari pandangan pertama dia memang sudah sangat menarik perhatian, ternyata benar dia adalah perempuan berumur 16 tahun yang sangat hebat.
Riska Nurmaulani adalah anak ke empat dari empat bersaudara, dia menderita Down Syndrome sejak berumur 2 tahun. Ibunya melahirkan Riska saat beliau berumur 30 tahun. Awalnya Riska lahir dalam keadaan normal, namun ia sering sakit dan sering kali di bawa ke Puskesmas. Sejak saat itu ia banyak mengkonsumsi obat dari Puskesmas, lama kelamaan ada yang berubah dari Riska, mulai dari fisik dan mentalya. Ia mulai tidak lancar dalam berbicara sejak umur 2 tahun. Setelah diperiksa ke dokter, ia didiagnosa Down Syndrome.
C.      Gambaran Fisik Penderita Down Syndrome
Penulis mengamati kegiatan Riska saat ia sedang di sekolah. Penulis memperhatikan ia saat sedang belajar, bermain, mengganggu temannya, membersihkan kelas, belanja di kantin, dan hingga dia nangis dan marah.
Dia memiliki ciri-ciri fisik diantaranya bentuk kepalanya relatif kecil, matanya besar namun sedikit sipit, bentuk hidungnya kecil dan relatif datar, kantung matanya besar, giginya besar dan mulutnya selalu terbuka. Kulitnya sawo matang, rambutnya hitam, dan jari-jarinya terlihat besar dan tumpul.
Tinggi badan dan berat badan Riska masih tergolong normal seperti anak-anak seumurannya.
D.     Hasil Wawancara dengan Orangtua (Ibu)
Penulis melakukan wawancara dengan ibu Riska pada Jumat, 08 Desember 2017 tepatnya di rumah Riska tepatnya di jalan Harapan kota Pekanbaru. Berdasarkan wawancara penulis memperoleh informasi bahwa Riska menderita Down Syndrome sejak ia berumur 2 tahun. Disamping itu,  ternyata ada keluarga Riska yang menderita Down Syndrome sama seperti Riska.
Saat ini Riska berumur 16 tahun, dan belum lama ini dia masuk SLB Melati. Sebelum ia sekolah, ia membantu ibunya bekerja menjadi tukang cuci. Setiap ibunya bekerja di rumah-rumah tetangganya beliau selalu mengajak Riska, dan Riska membantu ibunya mencuci pakaian dan pekerjaan lainnya.
Disini penulis hanya akan membahas Perkembangan Emosional pada diri anak Down Syndrome. Setelah penulis memanyakan bagaimana kesehariannya seorang Riska, ibunya pun menceritakan dengan sangat terbuka. Riska ini adalah anak yang sangat manja, dan sangat membutuhkan perhatian lebih dari orang-orang sekitarnya. Jika Riska menginginkan suatu barang, namun barang itu tidak bisa ia dapatkan, ia akan sedih dan marah (ngambek/merajuk). Namun saat ia sedang marah ataupun sedih, ia tidak pernah menunjukkan sikap itu didepan ibunya. Seperti anak lainnya, sangat normal jika menginginkan barang namun tidak terpenuhi dia akan marah. Namun, yang terjadi pada Riska adalah perlakuan itu sangat sering ia lakukan, dan dia belum bisa mengendalikannya. Hal lain yang membuat ia marah adalah ketika ia sedang disuruh-suruh, misalnya disuruh cuci piring, disuruh nyapu, dll. Ia malah dengan senang hati jika melakukan hal itu tanpa disuruh dan tanpa paksaan dari orang lain. Hal lain yang membuat ia marah adalah ketika ia sedang meminta sesuatu dan ibunya mengatakan “nanti”.
Pada saat ia sedang marah ataupun sedih, ibunya hanya mendiamkannya saja, lama kelamaan juga marah dan sedihnya hilang. Jadi Riska ini sering sekali marah, namun marahnya itu cepat hilang. Keadaan emosinya sangat tidak stabil.
E.      Hasil Wawancara dengan Wali Kelas
Berdasarkan hasil wawancara penulis yang dilakukan pada Kamis, 07 Desember 2017. Penulis memperoleh informasi bahwa Riska juga sangat manja dan minta diperhatikan terus di sekolah. Sedikit-sedikit nangis jika diganggu temannya, dan saat dia berteman kemudian temannya meninggalkannya ia juga akan sering nangis.
Di sekolah Riska kesulitan untuk memahami pelajaran, gurunya juga tidak memaksakan ia dalam akademik, karena memang IQ Riska dibawah rata-rata. Namun, ia mendapatkan nilai yang cukup bagus pada pelajaran seperti menggambar, mewarnai, menari dan juga menyanyi. Riska sangat rajin di kelasnya, pada saat giliran dia piket gurunya mengatakan bahwa dia yang paling bersih dan rapi. Namun balik lagi, itu ia lakukan saat mood dia bagus.
Pada saat dia marah atau nangis di kelas, gurunya selalu menegaskan bahwa “Riska, kamu bukan anak kecil lagi. Anak bayi yang nangis”. Riska ini termasuk anak yang mudah diarahkan. Namun balik lagi, karena ia memiliki IQ yang dibawah rata-rata dia sering berubah-berubah keadaanya.
Riska sangat senang jika ia selalu diperhatikan dan dimanja, karena dia memang sangat membutuhkan hal itu. Ia selalu ingin merasa dilindungi dan disayang. Dia sangat marah jika orang lain meninggalkannya.


F.       P_20171208_090307.jpgLampiran Foto































BAB IV
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Down Syndrome adalah kelainan yang diakibatkan karena individu mengalami kelebihan kromosom sehingga memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental suatu individu. Hal itu menyebabkan suatu individu memiliki IQ dibawah rata-rata sehingga keadaan emosionalnya tidak stabil dan lambat dalam berpikir maupun bertindak.
Penderita Down Syndrome akan selalu bertingkah seperti anak-anak walaupun mereka sudah dewasa. Keadaan emosionalnya sangat tidak stabil, mereka sering marah dan sedih, namun akan menjadi pribadi yang sangat ramah saat emosinya dalam keadaan baik. Sangat sulit untuk menghadapi anak Down Syndrome, karena para orangtua harus selalu memberikan perhatian yang lebih dan harus selalu mengingatkan serta menasehati secara berulang-ulang.
B.      Saran
Diluar sana, banyak orang yang menjauh dan tidak perduli pada anak-anak penderita Down Syndrome. mereka acuh dan tidak perduli dengan keberadaan anak-anak yang berkebutuhan khusus. Kita sebagai orang yang terpelajar, harus selalu mendukung dan mengembangkan bakat yang dimiliki oleh anak berkebutuhan khusus.



DAFTAR PUSTAKA
Rohimi, Syarif. 2013. Merawat Bayi Sindroma Down. Jakarta: Gramedia
Soetjiningsih. 2000. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC