PERKEMBANGAN
EMOSIONAL ANAK DOWN SYNDROME

DOSEN
PEMBIMBING
Refika
Andriani, M.Pd.
DISUSUN
OLEH
SISKA
FRADINA 1788203017
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LANCANG KUNING
2017/2018
KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum wr. Wb
Dengan mengucap syukur
alhamdulillah. Terimakasih penulis ucapkan kepada Ibuk Refika Andriani,M.Pd.
Karena beliau telah memberikan waktu yang cukup lama untuk penulis melaksanakan
penelitian dan merangkumnya dalam makalah yang berjudul “Perkembangan Emosional
Anak Down Syndrome”.
Walaupun banyak hambatan dan kesulitan yang penulis
hadapi, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Swt. Walaupun demikian, sudah tentu makalah ini masih banyak kekurangan dan belum dikatakan sempurna karena keterbatasan
kemampuan penulis.
Oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat
membangun dari semua pihak penulis harapkan agar dalam pembuatan makalah di
waktu yang akan datang bisa lebih baik lagi. Harapan penulis semoga makalah ini berguna bagi
siapa saja yang membacanya.
Wabilahi taufik walhidayah wasalamualaikum
wr.wb.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
i
DAFTAR ISI
ii
BAB
I PENDAHULUAN
1
A.
Latar Belakang
1
B.
Rumusan Masalah
1
C.
Tujuan Makalah
1
BAB II
PEMBAHASAN
2
A. Pengertian Down Syndrome
2
B. Pemeriksaan Diagnostik
Down Syndrome
2
C.
Penyebab Down Syndrome
3
D.
Karakteristik Down Syndrome
5
E.
Cara Pencegahan dan Penanganan Penderita Down
Syndrome
6
BAB III HASIL PENELITIAN
8
A.
Biodata Anak Down Syndrome
8
B.
Gambaran Umum Penderita Down Syndrome
8
C.
Gambaran Fisik Penderita Down Syndrome
9
D.
Hasil Wawancara dengan Orangtua (Ibu)
9
E.
Hasil Wawancara dengan Wali Kelas
10
F.
Lampiran Foto
11
BAB IV PENUTUP
12
A.
Kesimpulan
12
B.
Saran
12
DAFTAR PUSTAKA
13
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pertumbuhan
dan perkembangan anak sudah dimulai sejak dalam kandungan hingga dewasa. Namun,
tidak semua anak terlahir dalam keadaan normal. Ada sebagian dari setiap
kelahiran seorang ibu yang mengalami kelainan, salah satunya Down Syndrome (mongoloid).
Down Syndrome merupakan
kelainan kromosom autosomal yang paling banyak terjadi pada manusia. Anak
dengan Down Syndrome memiliki
kelainan pada kromosom nomor 21 yang tidak terdiri dari 2 kromosom sebagaimana
mestinya. Melainkan 3 kromosom (trisomi 21) sehingga informasi genetika menjadi
terganggu dan anak juga mengalami penyimpangan fisik. Kondisi ini menyebabkan
keterlambatan perkembangan anak, dan kadang mengacu pada retardasi mental.
Tetapi hampir semua anak yang menderita kelainan ini dapat belajar membaca,
menulis, merawat diri dan menjaga kebersihan di lingkungannya. Bahkan anak Down Syndrome banyak yang berhasil dan
berprestasi dalam bidang non akademik.
Diharapkan
anak-anak yang memiliki kelainan fisik maupun mental dapat mendapatkan
penanganan secara khusus dan ikut mendukung perkembangannya dalam bidang
akademik maupun non akademik.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan Down Syndrome?
2.
Bagaimana pemeriksaan diagnostik pada Down Syndrome?
3.
Apa penyebab Down Syndrome?
4.
Bagaimana karakteristik Down Syndrome?
5.
Bagaimana cara pencegahan dan penanganan penderita Down
Syndrome?
C.
Tujuan
Makalah
Untuk
menambah pengetahuan tentang Down Syndrome.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Down Syndrome
Menurut
Gunarhadi (2005 : 13) Down Syndrome
adalah suatu kumpulan gejala akibat dari abnormalitas kromosom, biasanya
kromosom 21, yang tidak dapat memisahkan diri selama meiosis sehingga terjadi
individu dengan 47 kromosom.
menurut
Cuncha dalam Mark L.Batshaw, M.D.
Down Syndrome adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan
mental pada anak yang disebabkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom.
Menurut
Selikowitz (2001), anak Down
Syndrome dan anak normal pada dasarnya memiliki tujuan yang sama dalam tugas
perkembangan, yaitu mencapai kemandirian. Namun, perkembangan
anak Down
Syndrome lebih lambat dari pada anak normal. Jadi diperlukan suatu terapi untuk
meningkatkan kemandirian anak Down Syndrome.
Dari pendapat diatas penulis dapat
menyimpulkan bahwa Down Syndrome adalah kelainan yang diakibatkan karena
individu mengalami kelebihan kromosom sehingga memengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan fisik maupun mental suatu individu. Hal itu menyebabkan suatu
individu memiliki IQ dibawah rata-rata sehingga lambat berpikir dan bertindak.
B.
Pemeriksaan
Diagnostik Down Syndrome
Pemeriksaan
diagnostik dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan Down Syndrome. Untuk
mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada beberapa pemeriksaan yang dapat
membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain:
1.
Pemeriksaan fisik penderita
2.
Pemeriksaan kromosom penderita
Kariotip manusia biasa hadir
sebagai 46 autosom+XX atau 46 autosom+XY, menunjukkan 46 kromosom dengan aturan
XX bagi betina dan 46 kromosom dengan aturan XY bagi jantan, tetapi pada
penderita Down Syndrome terjadi kelainan pada kromosom ke 21 dengan bentuk
trisomi atau translokasi kromosom 14 dan 22.
3.
Ultrasonograpgy (USG)
Pada penderita Down Syndrome didapatkan brachycephalic, sutura dan fontela
terlambat menutup, tulang
ileum dan sayapnya melebar.
4.
Echocardiogram (ECG)
Cara ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya kelainan jantung bawaan mungkin
terdapat ASD atau VSD.
5.
Pemeriksaan darah
Salah satunya adalah dengan adanya leukemia akut menyebabkan penderita
semakin rentan terkena infeksi, sehingga penderita ini memerlukan monitoring
serta pemberian terapi pencegah infeksi.
6.
Penentuan aspek keturunan
Dapat ditegakkan melalui
pemeriksaan cairan amnion atau korion pada kehamilan minimal 3 bulan, terutama
kehamilan diusia diatas 35 tahun keatas.
7.
Pemeriksaan dermatoglifik
Ditandai dengan lapisan kulit biasanya tampak keriput.
C.
Penyebab Down
Syndrome
Seorang
individu yang menderita Down Syndrome diakibatkan oleh beberapa hal,
diantaranya adalah:
1.
Down Syndrome mempunyai kromosom 21 yang berlebih (3
kromosom) didalam tubuhnya yang kemudian disebut trisomi 21. Adanya kelebihan
kromosom menyebabkan perubahan dalam proses normal
yang mengatur embriogenesis. Materi genetik yang berlebih
tersebut terletak pada bagian lengan bawah dari kromosom 21 dan interaksinya
dengan fungsi gen lainnya menghasilkan suatu perubahan homeostasis yang memungkinkan terjadinya penyimpangan pertumbuhan fisik
(kelainan tulang), SSP (penglihatan, pendengaran) dan kecerdasan yang terbatas.
2.
Genetik
Diperkirakan terdapat predisposisi terhadap
“Non disjunctional”. Bukti yang mendukung
teori ini adalah berdasarkan atas hasil penelitian epidemiologi yang
menyebabkan adanya peningkatan risiko berulang bila dalam keluarga terdapat
anak dengan Down Syndrome.
3.
Radiasi
Radiasi dikatakan merupakan salah satu
penyebab utama terjadinya “Nondisjunctional” pada Down Syndrome. Uchida 1981
membicarakan bahwa sekitar 30% ibu melahirkan anak dengan Down Syndrome,
pernah mengalami radiasi didaerah perut sebelum terjadinya konsepsi. Sedangkan
penelitian lain tidak menetapkan adanya hubungan antara radiasi dengan
penyimpangan kromosom.
4.
Infeksi
Infeksi juga dikatakan salah satu penyebab
terjadinya Down Syndrome.Sampai saat ini belum ada peneliti yang mampu
memastikan bahwa virus dapat mengakibatkan
terjadinya “Non disjunctional”.
5.
Autoimun
Terutama autoimun tiroid atau penyakit yang
berkaitan dengan tiroid. Penelitian Fialkaw 1966, secara konsisten mendapatkan
perbedaan autoantibodi tiroid pada ibu yang melahirkan anak dengan Down
Syndrome dengan ibu kontrol yang umurnya sama.
6.
Umur ibu
Apabila umur ibu diatas 35 tahun diperkirakan
terdapat perubahan hormonal yang dapat
menyebabkan “non dijunction” pada kromosom. Perubahan endokrin seperti
konsentrasi reseptor hormon dan peningkatan kadar LH dan FSH secara tiba-tiba
sebelum dan selama menopause. Selain itu kelainan kehamilan juga berpengaruh.
7.
Umur ayah
Penelitian sutogenik pada orang tua dengan
Down Syndrome mendapatkan bahwa 20-30% kasus
ekstra kromosom 21 bersumber dari ayahnya. Tetapi korelasinya tidak setinggi
dengan umur ibu.
D.
Karakteristik
Down Syndrome

Berat pada bayi yang baru lahir
dengan penyakit Down Syndrome pada umumnya kurang dari normal, diperkirakan 20%
kasus dengan Down Syndrome ini lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram.
Anak-anak yang menderita Down Syndrome memiliki penampilan yang khas, seperti
berikut:
1.
Bentuk tulang tengkoraknya asimetris atau ganjil
dengan bagian belakang kepalanya mendatar (sutura sagitalis terpisah).
2.
Lesi pada iris mata (bintik Brushfield), matanya sipit ke
atas dan kelopak mata berlipat-lipat (lipatanepikantus) serta jarak
pupil yang lebar.
3.
Kepalanya lebih kecil daripada normal
(mikrosefalus) dan bentuknya abnormal serta leher pendek dan besar.
4.
Pada bayi baru lahir kelainan dapat berupa Congenital Heart Failure (kelainan jantung bawaan), kelainan ini yang biasanya
berakibat fatal di mana bayi dapat meninggal dengan cepat.
5.
Hidungnya datar (Hidung kemek/Hipoplastik), lidahnya menonjol, tebal dan kerap terjulur serta mulut yang selalu
terbuka.
6.
Tangannya pendek dan lebar dengan jari-jari
tangan yang pendek dan seringkali hanya memiliki satu garis tangan pada telapak
tangannya.
7.
Jarak ibu jari kaki dengan jari kedua lebar.
8.
Jari kelingking hanya terdiri dari dua buku dan
melengkung ke dalam (Plantar Crease).
9.
Telinganya kecil dan terletak lebih rendah.
10.
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan (hampir
semua penderita Down Syndrome tidak pernah mencapai tinggi rata-rata orang
dewasa).
11.
Keterbelakangan mental.
12.
Hiper fleksibilitas.
13.
Bentuk palatum yang tidak normal.
14.
Kelemahan otot.
E.
Cara
Pencegahan dan Penanganan Penderita Down Syndrome
Pencegahan:
1.
Konseling genetik maupun amniosentesis pada kehamilan yang dicurigai akan sangat membantu mengurangi angka
kejadian Down Syndrome.
2.
Dengan Biologi Molekuler, misalnya dengan “ gene targeting “ atau yang dikenal juga sebagai “
homologous recombination “ sebuah gen dapat dinonaktifkan.
3.
Dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis
bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu
hamil yang pernah mempunyai anak dengan Down Syndrome atau mereka yang hamil di
atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena
mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan Down Syndrome lebih tinggi. Down
Syndrome tidak bisa dicegah, karena Down Syndrome merupakan kelainan yang
disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Jumlah kromosm 21 yang harusnya cuma 2
menjadi 3. Penyebabnya masih tidak diketahui pasti, yang dapat disimpulkan
sampai saat ini adalah makin tua usia ibu makin tinggi risiko untuk terjadinya Down
Syndrome. Diagnosis dalam kandungan bisa dilakukan, diagnosis pasti dengan
analisis kromosom dengan cara pengambilan CVS (mengambil sedikit bagian janin pada plasenta) pada kehamilan 10-12 minggu) atau amniosentesis (pengambilan air ketuban)
pada kehamilan 14-16 minggu.
Penanganan:
1.
Penanganan Secara Medis.
2.
Pendidikan.
a.
Intervensi dini
b.
Taman bermain
c.
Pendidikan khusus (SLB-C)
d.
Penyuluhan pada orang tua
3.
Penyuluhan Pada Orang Tua
a.
Berikan nutrisi yang memadai.
b.
Anjurkan orang tua untuk memeriksakan pendengaran dan
penglihatan secara rutin.
c.
Memotivasi orang tua.
BAB III
HASIL PENELITIAN
A.
Biodata Anak
Down Syndrome
Nama :
Riska Nurmaulani
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Umur :
16 tahun
Sekolah : SLB Melati Limbungan,
Pekanbaru
Kelas : VII SMPLB C
Nama Ayah : Alm. Tedy Iskandar
Nama Ibu : Nur Syamsu
Urutan
Kelahiran : Anak ke empat dari empat
bersaudara
B.
Gambaran Umum
Penderita Down Syndrome
Pada tanggal
07-08 Desember 2017 penulis melakukan penelitian di SLB Melati Limbungan,
Pekanbaru. Penulis mencari sampel anak berkebutuhan khusus yang menderita
keterbelakangan mental. Dan ditemukanlah penderita Down Syndrome yang bernama
RISKA NURMAULANI. Dia adalah anak perempuan yang ramah, penuh kasih sayang dan
begitu perduli dengan lingkungan sekitarnya. Dari pandangan pertama dia memang
sudah sangat menarik perhatian, ternyata benar dia adalah perempuan berumur 16
tahun yang sangat hebat.
Riska Nurmaulani
adalah anak ke empat dari empat bersaudara, dia menderita Down Syndrome sejak
berumur 2 tahun. Ibunya melahirkan Riska saat beliau berumur 30 tahun. Awalnya
Riska lahir dalam keadaan normal, namun ia sering sakit dan sering kali di bawa
ke Puskesmas. Sejak saat itu ia banyak mengkonsumsi obat dari Puskesmas, lama
kelamaan ada yang berubah dari Riska, mulai dari fisik dan mentalya. Ia mulai
tidak lancar dalam berbicara sejak umur 2 tahun. Setelah diperiksa ke dokter,
ia didiagnosa Down Syndrome.
C.
Gambaran
Fisik Penderita Down Syndrome
Penulis
mengamati kegiatan Riska saat ia sedang di sekolah. Penulis memperhatikan ia
saat sedang belajar, bermain, mengganggu temannya, membersihkan kelas, belanja
di kantin, dan hingga dia nangis dan marah.
Dia memiliki
ciri-ciri fisik diantaranya bentuk kepalanya relatif kecil, matanya besar namun
sedikit sipit, bentuk hidungnya kecil dan relatif datar, kantung matanya besar,
giginya besar dan mulutnya selalu terbuka. Kulitnya sawo matang, rambutnya
hitam, dan jari-jarinya terlihat besar dan tumpul.
Tinggi badan
dan berat badan Riska masih tergolong normal seperti anak-anak seumurannya.
D.
Hasil
Wawancara dengan Orangtua (Ibu)
Penulis
melakukan wawancara dengan ibu Riska pada Jumat, 08 Desember 2017 tepatnya di
rumah Riska tepatnya di jalan Harapan kota Pekanbaru. Berdasarkan wawancara
penulis memperoleh informasi bahwa Riska menderita Down Syndrome sejak ia
berumur 2 tahun. Disamping itu, ternyata
ada keluarga Riska yang menderita Down Syndrome sama seperti Riska.
Saat ini
Riska berumur 16 tahun, dan belum lama ini dia masuk SLB Melati. Sebelum ia
sekolah, ia membantu ibunya bekerja menjadi tukang cuci. Setiap ibunya bekerja
di rumah-rumah tetangganya beliau selalu mengajak Riska, dan Riska membantu
ibunya mencuci pakaian dan pekerjaan lainnya.
Disini
penulis hanya akan membahas Perkembangan
Emosional pada diri anak Down Syndrome. Setelah penulis memanyakan
bagaimana kesehariannya seorang Riska, ibunya pun menceritakan dengan sangat
terbuka. Riska ini adalah anak yang sangat manja, dan sangat membutuhkan
perhatian lebih dari orang-orang sekitarnya. Jika Riska menginginkan suatu
barang, namun barang itu tidak bisa ia dapatkan, ia akan sedih dan marah
(ngambek/merajuk). Namun saat ia sedang marah ataupun sedih, ia tidak pernah
menunjukkan sikap itu didepan ibunya. Seperti anak lainnya, sangat normal jika
menginginkan barang namun tidak terpenuhi dia akan marah. Namun, yang terjadi
pada Riska adalah perlakuan itu sangat sering ia lakukan, dan dia belum bisa
mengendalikannya. Hal lain yang membuat ia marah adalah ketika ia sedang
disuruh-suruh, misalnya disuruh cuci piring, disuruh nyapu, dll. Ia malah
dengan senang hati jika melakukan hal itu tanpa disuruh dan tanpa paksaan dari
orang lain. Hal lain yang membuat ia marah adalah ketika ia sedang meminta
sesuatu dan ibunya mengatakan “nanti”.
Pada saat ia
sedang marah ataupun sedih, ibunya hanya mendiamkannya saja, lama kelamaan juga
marah dan sedihnya hilang. Jadi Riska ini sering sekali marah, namun marahnya
itu cepat hilang. Keadaan emosinya sangat tidak stabil.
E.
Hasil
Wawancara dengan Wali Kelas
Berdasarkan
hasil wawancara penulis yang dilakukan pada Kamis, 07 Desember 2017. Penulis
memperoleh informasi bahwa Riska juga sangat manja dan minta diperhatikan terus
di sekolah. Sedikit-sedikit nangis jika diganggu temannya, dan saat dia
berteman kemudian temannya meninggalkannya ia juga akan sering nangis.
Di sekolah
Riska kesulitan untuk memahami pelajaran, gurunya juga tidak memaksakan ia
dalam akademik, karena memang IQ Riska dibawah rata-rata. Namun, ia mendapatkan
nilai yang cukup bagus pada pelajaran seperti menggambar, mewarnai, menari dan
juga menyanyi. Riska sangat rajin di kelasnya, pada saat giliran dia piket
gurunya mengatakan bahwa dia yang paling bersih dan rapi. Namun balik lagi, itu
ia lakukan saat mood dia bagus.
Pada saat dia
marah atau nangis di kelas, gurunya selalu menegaskan bahwa “Riska, kamu bukan
anak kecil lagi. Anak bayi yang nangis”. Riska ini termasuk anak yang mudah
diarahkan. Namun balik lagi, karena ia memiliki IQ yang dibawah rata-rata dia
sering berubah-berubah keadaanya.
Riska sangat
senang jika ia selalu diperhatikan dan dimanja, karena dia memang sangat
membutuhkan hal itu. Ia selalu ingin merasa dilindungi dan disayang. Dia sangat
marah jika orang lain meninggalkannya.
F.
Lampiran Foto
Lampiran Foto
![]() |
![]() |
||
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Down
Syndrome adalah kelainan yang diakibatkan karena individu mengalami kelebihan
kromosom sehingga memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental
suatu individu. Hal itu menyebabkan suatu individu memiliki IQ dibawah
rata-rata sehingga keadaan emosionalnya tidak stabil dan lambat dalam berpikir
maupun bertindak.
Penderita Down Syndrome akan selalu
bertingkah seperti anak-anak walaupun mereka sudah dewasa. Keadaan emosionalnya
sangat tidak stabil, mereka sering marah dan sedih, namun akan menjadi pribadi
yang sangat ramah saat emosinya dalam keadaan baik. Sangat sulit untuk
menghadapi anak Down Syndrome, karena para orangtua harus selalu memberikan
perhatian yang lebih dan harus selalu mengingatkan serta menasehati secara
berulang-ulang.
B.
Saran
Diluar
sana, banyak orang yang menjauh dan tidak perduli pada anak-anak penderita Down
Syndrome. mereka acuh dan tidak perduli dengan keberadaan anak-anak yang berkebutuhan
khusus. Kita sebagai orang yang terpelajar, harus selalu mendukung dan
mengembangkan bakat yang dimiliki oleh anak berkebutuhan khusus.
DAFTAR PUSTAKA
Rohimi, Syarif. 2013. Merawat Bayi Sindroma Down. Jakarta: Gramedia
Asmaya, Piranti. 2016. http://pirantiasmaya.blogspot.co.id/2016/06/makalah-down-syndrome.html
Arum, Christy. 2014. http://sichesse.blogspot.co.id/2012/04/makalah-sindrom-down.html
Soetjiningsih. 2000. Tumbuh Kembang Anak.
Jakarta: EGC


Tidak ada komentar:
Posting Komentar